Kisah Sebuah Terong (Sebuah Cerpen berdasarkan Kehidupan Orang Lain)

 

(Krrruuut) Duhai, kerasnya suara perutku yang terus mengemis makanan sejak tiga hari yang lalu, yaaa beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mempelajari agama di kota ini, kota Damaskus. Aku berguru kepada seorang syaikh yang sudah sangat tua disini, jujur saja, aku tidak memiliki bekal maupun pekerjaan pada saat aku meminta berguru kepadanya karena aku datang dari kampung yang jauh di sudut negeri Syam.

“Ya syaikh, aku seorang pemuda miskin tidak punya apa-apa tetapi aku mau belajar agama. Apakah aku boleh menumpang di masjid ini bersama anda, aku akan membantu anda lalu hidup bersama anda”

itulah barangkali kata-kata yang ku ucapkan sewaktu pertama kali bertemu dengan syaikh, Alhamdulillah, betapa baiknya Syaikh Fudhail, ia mengizinkan aku untuk menginap dan makan bersama dia di Masjid ini. Sebelum itu, dia mempunyai syarat sebelum menjadikan diriku sebagai muridnya, ia mengatakan “Hai Khalid, engkau harus bersabar dengan kehidupanku, jika aku makan maka engkau boleh makan bersamaku namun engkau harus menerima makanan itu dengan lapang dada, jika aku tidak makan maka engkau juga harus bersabar dengan itu, kau boleh tinggal bersamaku di bagian belakang masjid ini tetapi engkau juga harus bersabar dengan keadaannya.”, dan aku pun menyetujui syarat itu.

Sekarang, sudah tiga hari aku dan syaikh tidak makan seremah roti pun, kami telah berpuasa selama tiga hari dengan hidangan sahur dan berbuka hanya berupa air dan kurma kering. Aku sudah kelaparan namun syaik Fudhail masih kuat, sampai-sampai pada hari ini di kajian dia, aku harus membungkukkan punggungku agar dapat menghilangkan rasa lapar yang parah, pada saat itu syaithan pun mulai memperdayai, ia mengacaukan fikiran dengan membisikkan

“ Wahai anak muda, sekarang sudah halal bagimu untuk mencuri, kalau kau tidak mencuri makanan, kau akan makan darimana? Sedangkan gurumu melarangmu untuk meminta-minta dan orang lain pun tidak ada yang memberimu makan. Kalau begini kamu akan mati kelaparan !!!“

Pada saat pertama kali terlintas, ku coba untuk mengingkarinya namun semakin perutku merengek maka aku pun mulai terperdaya. Buruknya, aku iyakan bisikan itu lalu aku minta izin kepada syaikh Fudhail untuk pergi ke kamar mandi. Masjid kami hanya berdindingkan batang kurma yang dirapatkan sehingga mudah untuk dipanjat, terlebih lagi antara masjid dengan rumah-rumah disekitarnya hanya berbataskan dinding itu, jadi lebih mudah lagi untuk mencuri makanan, pikirku.

Lalu aku panjat dinding kurma itu, ternyata sangat mudah sekali mencapai atap masjid, di kananku ada atap rumah tetangga yang hanya ditutupi oleh pelepah kurma, tanpa ragu aku intip isi rumah itu dengan seksama. Ternyata ada dua orang gadis yang tak menutup aurat mereka, yang ku maksud adalah rambutnya, mereka sedang menjalin kulit hewan untuk dijadikan khuff yang merupakan sepatu kulit khas Arab. Namun, aku teringat bahwa tujuanku hanyalah mencari makanan bukan melihat aurat perempuan yang haram bagiku untuk melihatnya, dengan lincah aku pun merangkak ke rumah lain yang berada di sebelah rumah tadi, alias tetangganya tetangga masjid, hehehe.

Setiba disana, ternyata atapnya sama, dari pelepah kurma yang ditumpuk, dengan mudahnya aku buka atap itu dan ternyata yang sedang ku intip adalah bagian dapur dari rumah itu. Waah betapa beruntungnya diriku, didapur itu ada terong yang sedang direbus, tanpa pikir panjang aku pun meloncat ke dalam dapur itu, memenuhi panggilan perut yang merintih kesakitan. Terong yang biasanya tak kusukai sekarang terlihat seperti hidangan spesial untuk keluarga raja, spontan, aku memasukkan terong itu kedalam mulut yang kering ini, “waaaah enaknya !!” gumam ku, namun pada saat itu, tiba-tiba timbul rasa takutku kepada Allah, aku tersadar

A’udzubillah !, Setan telah tiga kali berhasil menjebakku, pertama masuk kerumah orang lain tanpa izin, kedua mencuri dan ketiga dia menjebakku untuk makan makanan haram”

Dan aku teringat lagi,  tidak mungkin Allah akan membuat aku mati kelaparan hanya karena meninggalkan sesuatu yang haram, karena Nabi Muhammad shalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363)

Maka terong yang baru dikunyah beberapa kali itu ku ludahkan ke lantai dapur, lalu aku tutup pancinya dan bergegas pergi dari rumah itu. Setiba di masjid, aku melihat syaikh Fudhail sambil menundukkan pandangannya sedang berbicara dengan seorang perempuan bercadar. Dari jauh, syaikh Fudhail memanggilku untuk datang kesana, aku berbisik dari kejauhan menjawab panggilannya “Aku syaikh ?”, lalu ia menganggukkan kepalanya, hatiku berdebar kencang, prasangka ketahuan mencuri telah terbesit di hatiku, dengan wajah tertunduk aku datang menghadap syaikh Fudhail.

Baru saja lututku menyentuh lantai masjid, tiba-tiba ia mengatakan

“Wahai anakku, Khalid, apakah engkau telah menikah ?”,

Terkejut, aku pun menjawab “Be.. Belum ya syaikh”,

“Hei anakku, apakah kau ingin menikah  ?”

(Terdiam, aku terdiam, membeku dalam keheranan)

Syaikh Fudhail mengulang pertanyan tadi tiga kali, lalu apa yang menghambatku untuk menikah keluar dari lisanku,

“Wahai syaikh, maaf syaikh Fudhail semoga engkau dirahmati Allah, bagaimana bisa aku menikahi seorang perempuan sedangkan untuk memberi makan diri sendiri aku belum bisa dan engkau juga mengetahui bahwa aku tinggal bersamamu, kalau kiranya aku menikah.. mau diberi makan dari mana istriku ?, sedangkan saat ini aku hidup dengan anda syaikh, apa yang anda makan aku makan dan apa yang anda minum aku minum. Hari ini kita sudah berpuasa selama tiga hari dan masih tidak memiliki makanan untuk dimakan ”

Lalu syaikh Fudhail menjawab,

“Ini di samping aku ada seorang perempuan yang baru saja selesai masa ‘iddahnya, namanya Shafiyyah, suaminya sudah meninggal. Dia ditinggalkan dengan harta yang cukup dan juga masih muda. Dia ingin cepat menikah karena takut akan terbawa fitnah. Dia ingin aku carikan jodoh. Dan aku merasa kamu cocok, apakah kamu mau aku nikahkan dengan dia? ”

Aku terdiam beberapa saat untuk mempertimbangkan hal ini, dia ingin menikah karena takut terjerumus fitnah  dan untuk menjaga dirinya dari perzinaan, dia juga memakai cadar insya Allah biasanya orang yang memakai ini yakin bahwa kecantikan itu hanya untuk suami bukan untuk diumbar kepada semua manusia, dia juga tidak menuntut banyak dari diriku dalam hal mahar, jadi dapat ku simpulkan bahwa dia perempuan yang baik, juga tak lupa dipertimbangkan adalah parasnya, memang terlihat matanya sangat indah, lalu aku putuskan untuk menikahinya

“Hmm.. kalau begitu tidak apa-apa syaikh kalau dia tidak keberatan, baiklah aku akan menikahinya,”

Dan syaikh Fudhail menanyakan ke perempuan yang bernama Shafiyyah itu,

“Apakah kamu mau menikah dengan pemuda ini? ”

“Iya syaikh”

Setelah itu, syaikh pergi ke kamar, dan ia keluar membawa kendi yang pernah syaikh ceritakan bahwa dulu itu adalah hadiah dari seorang saudagar china untuk syaikh Fudhail, lalu dijadikannya itu sebagai mahar, dipanggillah wali dari perempuan, dipanggil juga dua orang saksi, selanjutnya akad nikah dan selesai dalam hitungan menit. Karena masalah harta, kami tidak bisa mengadakan walimah atau pesta pernikahan saat itu. Syaikh Fudhail berkata sambil tersenyum

“Sekarang pergilah kerumah istrimu, nanti kalau mau shalat atau menuntut ilmu silahkan saja datang kesini, Alhamdulillah sekarang kamu tidak perlu lagi menumpang tinggal di masjid.”

“Baiklah syaikh, Jazakallahu Khairan, was-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

                “Wa anta kadzalik, wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Lalu kami pergi keluar dari masjid, maklumlah pengantin baru dan kami baru berkenalan, baru 15 menitan loh !, jujur saja kami berdua masih malu-malu, baru saja bertemu, terlebih lagi baru sekali ini aku berada sangat dekat dengan perempuan, apalagi cantik jelita dan berakhlak baik seperti dia. Setelah berjalan beberapa lama, dia berhenti di depan sebuah rumah dan berkata “ Wahai suamiku, disinilah rumah kita, ayo masuk kedalam,,” ucapnya dengan lembut. Tetapi aku melihat rumah ini tidak asing, dari jenis dindingnya dan atapnya, aku mulai curiga, tapi tak apalah mungkin cuma kebetulan, pikirku.

Kami pun masuk kerumah, “Aku mendengar dari percakapanmu dengan syaikh Fudhail, engkau belum makan selama tiga hari ya suamiku ?, kebetulan aku sedang memasak di dapur jadi segera ku siapkan, sabar ya”

Ia berjalan ke dapur, sembari menantinya mengambil makanan aku pun memperhatikan kembali rumahnya, akhirnya aku yakin bahwa rumah ini adalah yang ku curi terongnya, tak berapa lama setelah aku yakin, Shafiyyah membuka tutup panci di dapurnya. Saat melihat terong di dalamnya dia berkata, ”Heran, siapa yang masuk ke rumah dan menggigit terong ini?!” Aku menangis dan memanggilnya “Istriku Shafiyyah, kesinilah sebentar, ada yang ingin ku ceritakan” lalu kuceritakan sejujurnya apa yang terjadi,

“Demi Allah istriku, begini ceritanya … dan Demi Allah, sebelum terong tersebut aku telan, timbul rasa takutku kepada Allah, kemudian gigitan terong tersebut aku lempar ke lantai dapurmu, dan bisa kamu periksa, terong tersebut bahkan belum kering !!”

lalu Shafiyyah berkata “Masya Allah, Wahai suamiku, benarlah hadist Nabi -shallallahu ‘alaihi was-sallam- yang kau ingat disaat mengunyah terong itu, ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu, tadinya engkau hanya mendapatkan sedikit dari terongnya dan kau, suamiku, ludahkan terong haram itu karena takut kepada Allah, sekarang Allah berikan kepadamu mulai dari terongnya, pancinya, rumahnya bahkan pemilik rumah ini menjadi milikmu sekarang dalam keadaan halal. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu dan aku berharap seandainya semua laki-laki sepertimu, betapa beruntungnya diriku…!” Shafiyyah dan aku pun menangis haru…

Istriku, Shafiyyah, pada akhirnya meriwatkan kisah kami, dia berharap agar kisah ini menjadi bukti nyata dan pelajaran bagi orang-orang sesudah kami bahwa janji Allah itu benar adanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan

Cerita ini diadaptasi dan dikembangkan dari kisah nyata Syaikh Salim Al-Masuthi di sebuah masjid besar yang bernama Masjid Jami’ At-Taubah di Damaskus, Suriah di zaman Tabi’in dahulu, dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain, Syaikh Salim adalah orang yang bertemu dengan seorang pemuda fakir yang ingin menuntut ilmu kepadanya yang merupakan tokoh dari cerpen ini. Pada akhirnya, cerpen ini menjadi cerita fiksi yang terinspirasi dari cerita aslinya. Sumber cerita asli : Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s