Puisi : Berjalan

Disini aku,

dalam kehampaan aku berdiri

Tertelentang di hadapanku seutas kawat

sedang aku berdiri di tepi kehampaan

Lalu kakiku tak tahan untuk berayun

Ia menyentuh kawat itu

Tiba-tiba, semua hilang

dirayapi kabut yang menghantui

Kawat itu merangkak, memanjang

Mataku ragu, mencermati sekali lagi

Ahh… ia merangkak terlalu jauh

Ku kejar ia menuju ketidakterbatasan

Lalu sepanjang empat hasta aku kejar

dan terdengarlah sebuah menara menyapa

Ia memanggilku dan berseru

Disinilah tempatmu

Hanya tiga ayunan kaki lagi,

aku sampai ke pangkuan menara

Seeokor burung terbang di hadapanku

menatap tajam namun hampa

Lalu aku teringat pesan tetuaku

Banyak manusia mati dalam tiga langkah

Tiga langkah terakhir, terasa dekat

terasa dekat, terasa sampai, terasa jaya

Namun ketahuilah,

ia masih di atas kawat

Ku berhenti, kawat itu mulai goyah

seakan letih menopangku

Lalu keraguan merayap sekujur

Lalu ku beri hormat kepada kawat

Lalu ku beri hormat kepada menara

Lalu ku beri hormat kepada si kabut

Mereka tersenyum dan berseru

Lanjutkanlah, hanya tinggal tiga lagi

Maka lanjutlah kakiku

Maka bergeraklah sesampai tiga lagi

Lalu akhirnya

Akhirnya namun akhir

Lalu awalnya

Awalnya namun awal

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s